Sumba Timur tidak tergesa.
Tanahnya kering, anginnya jujur,
dan waktu berjalan pelan seperti ingatan.
Rumah-rumah tinggi berdiri sunyi,
menjaga cerita yang tidak pernah diminta untuk cepat.
Di antara padang dan langit luas,
manusia hidup berdampingan dengan hari-hari yang sama—
namun tak pernah kosong.
Di sini kami belajar bahwa bertahan
bukan tentang melawan keadaan,
melainkan menerima tanah apa adanya
dan tetap hidup dengan martabat.
Sumba Timur tidak meminta untuk diselamatkan.
Ia hanya ingin dipahami—
sebagai tanah yang setia,
dan manusia yang memilih tetap tinggal.
Sumba Timur — satu pulau, satu cerita, satu komitmen.







Ulasan
Belum ada ulasan.